HomeSejarah Indonesia-PalestinaSejarah PalestinaGaza di Era Perang Salib: Kota Kosong, Benteng Templar, dan Delapan Puluh...

Gaza di Era Perang Salib: Kota Kosong, Benteng Templar, dan Delapan Puluh Tahun yang Mengubah Segalanya

GAZA CITY — Ketika pasukan Tentara Salib memasuki Gaza pada tahun 1100, mereka tidak menghadapi perlawanan. Penulis sejarah William dari Tyre mencatat bahwa kota itu ditemukan dalam keadaan tidak berpenghuni dan menjadi reruntuhan. Tidak ada garnisun yang perlu dikalahkan, tidak ada penduduk yang perlu diusir. Gaza sudah kosong sebelum mereka tiba.

Kondisi itu kemungkinan besar adalah dampak dari pergolakan panjang antara Dinasti Fatimiyah Mesir dan kekuatan-kekuatan lain di kawasan sejak Perang Salib Pertama meletus pada 1096, ditambah kemungkinan bahwa penduduk telah mengungsi mendahului kedatangan pasukan Eropa. Apapun alasannya, Raja Baldwin I tidak membangun apa pun yang berarti di sana. Gaza yang kosong dibiarkan kosong untuk beberapa dekade berikutnya.

Kastil, Templar, dan Kota yang Tumbuh Kembali

Baru pada 1149, Raja Baldwin III dari Jerusalem membangun sebuah benteng kecil di Gaza. Sumber daya yang terbatas membuatnya tidak mampu membentengi seluruh bukit tempat kota itu berdiri. Namun posisi Gaza tetap bernilai strategis: memiliki Gaza berarti menutup jalur darat antara Ascalon — kota pelabuhan besar yang masih dipegang Fatimiyah di utara — dan bantuan dari Mesir.

Setelah kastil selesai, Baldwin menyerahkan Gaza beserta kawasan sekitarnya kepada Ksatria Templar. Bersama kastil itu, ia juga memerintahkan Masjid Agung Gaza — bangunan yang berlapis-lapis sejarahnya sejak milenium kedua sebelum Masehi — diubah menjadi Katedral Santo Yohanes.

Di bawah pengelolaan Templar, kota perlahan berpenghuni kembali. Penulis geografi Muslim Abu Abdullah Muhammad al-Idrisi, dalam catatannya tahun 1154, menulis bahwa Gaza ketika itu sangat ramai dan berada di tangan Tentara Salib, dengan populasi yang telah pulih berkat posisi kota di jalur perdagangan yang strategis. Seiring bertambahnya penduduk, warga didorong untuk membangun rumah di luar tembok kastil, di kawasan yang disebut faubourg atau pinggiran kota, yang dikelilingi tembok lebih rendah dan gerbang yang lebih lemah.

Sebuah tabel demografis yang tercatat dalam A History of the Crusades menempatkan Gaza sekitar tahun 1200 sebagai kota seluas 49 hektar dengan perkiraan populasi 6.125 jiwa — lebih besar dari Acre yang saat itu mencapai 5.625 jiwa.

Masjid yang Menjadi Katedral

Bangunan yang diubah fungsinya oleh Baldwin III itu bukan sembarang bangunan. Tapak Katedral Santo Yohanes adalah salah satu tempat paling berlapis sejarahnya di kawasan Mediterania timur.

Di milenium kedua sebelum Masehi, tapak itu adalah kuil Dagon, dewa kesuburan orang Filistin — kuil yang disebut dalam Alkitab sebagai tempat yang diruntuhkan oleh Samson. Di era Romawi, kuil untuk Marnas — dewa hujan dan gandum yang disamakan dengan Zeus — berdiri di atasnya. Gambar Marnas bahkan dicetak di koin-koin Gaza pada masa itu. Pada 402 Masehi, kuil itu dibakar atas perintah kaisar Kristen. Permaisuri Byzantium Aelia Eudocia kemudian membangun gereja besar di atas reruntuhannya pada 406 Masehi. Gereja itulah yang berubah menjadi masjid ketika kaum Muslim masuk pada abad ke-7, lalu menjadi katedral di tangan Tentara Salib pada 1149.

Para arkeolog kemudian menemukan bahwa konversi-konversi ini tidak pernah benar-benar menghapus lapisan sebelumnya. Pilar-pilar atas bangunan itu berasal dari sinagoga Yahudi abad ke-3 di Caesarea Maritima. Pada 1870, sebuah ukiran ditemukan di dinding atas menampilkan menorah, shofar, lulav, dan etrog dengan prasasti dalam bahasa Ibrani dan Yunani: “Hananyah putra Jacob.” Ketika bangunan itu kembali menjadi masjid setelah 1187, sebagian besar nave dan portal barat peninggalan Tentara Salib tetap dibiarkan berdiri dan terlihat hingga zaman modern.

Bangunan itu adalah catatan sejarah yang ditulis ulang berkali-kali tanpa pernah menghapus tulisan sebelumnya.

Templar, Saladin, dan Tembok yang Terlalu Tipis

Pada Desember 1170, Saladin — penguasa baru Mesir yang sedang memperkuat posisinya — melancarkan serangan ke wilayah Tentara Salib. Target yang diumumkan adalah Darum, pos Templar di selatan Gaza. Raja Amalric I dari Jerusalem memerintahkan pasukan Templar di Gaza berangkat membantu pertahanan Darum, meninggalkan kota di bawah kendali Miles de Plancy, seorang sepupu raja. Penulis sejarah William dari Tyre menggambarkan De Plancy tidak layak memegang posisi sepenting itu.

Saladin tidak menyerang Darum. Ia berbalik arah ke Gaza. Ketika penduduk di kawasan luar tembok berlari meminta perlindungan ke dalam kastil, De Plancy tidak membuka pintu.  Kawasan faubourg dihancurkan. Kastil sendiri tidak berhasil ditembus — tembok Templar terlalu tebal untuk ditembus dalam serangan seperti itu.

Tujuh tahun kemudian, pada 1177, Saladin kembali dengan pasukan yang lebih besar dan menyebar di kawasan sekitar Gaza dan Ascalon, mengambil perbekalan dari daerah sekitar. Dalam kondisi itu, Raja Baldwin IV memimpin pasukan yang jauh lebih kecil — sekitar 375 ksatria Templar dari Kastil Gaza ditambah pasukan infanteri — menyerang pasukan Saladin yang sedang tidak bersiaga.

Dalam Pertempuran Montgisard, pasukan Tentara Salib berhasil memukul mundur pasukan Saladin. Gaza dan kawasan sekitarnya tetap di tangan Tentara Salib untuk sementara waktu. Saladin dan sisa pasukannya mundur kembali ke Mesir.

1187: Gaza Diserahkan untuk Satu Orang

Sepuluh tahun setelah Montgisard, keseimbangan kekuatan berubah total. Pada 4 Juli 1187, Pertempuran Hattin menjadi kekalahan terbesar Tentara Salib: hampir seluruh pasukan Kerajaan Jerusalem dihancurkan, termasuk Grand Master Templar Gerard de Ridefort yang ditangkap hidup-hidup.

Saladin menggunakan para tawanan bangsawan sebagai penekan untuk membuka kastil-kastil satu per satu. Para Templar di Gaza menyerahkan kastil mereka dengan imbalan pembebasan Grand Master Gerard de Ridefort. Gaza kembali ke tangan Muslim. Saladin memerintahkan penghancuran fortifikasi kota pada 1191.

Setahun kemudian, setelah merebutnya kembali, Richard I dari Inggris membangun kembali sebagian tembok kota. Namun tembok-tembok itu dibongkar lagi berdasarkan Perjanjian Ramla yang disepakati beberapa bulan kemudian pada 1193.

Katedral Santo Yohanes kembali menjadi masjid. Bulan sabit menggantikan salib untuk terakhir kalinya.

Warisan dalam Batu yang Sudah Tidak Ada

Era Tentara Salib meninggalkan satu warisan fisik yang bertahan jauh lebih lama dari kekuasaannya: sebagian besar nave dan portal barat katedral yang mereka bangun tetap terlihat di dalam Masjid Agung Gaza selama berabad-abad setelahnya — pengingat diam bahwa bangunan itu pernah menjadi gereja.

Pada 8 Desember 2023, serangan udara Israel menghancurkan Masjid Agung Gaza. Bangunan yang telah bertahan dari Filistin, Romawi, Byzantium, kaum Muslim awal, Tentara Salib, Ayyubiyah, Mamluk, Mongol, Ottoman, dan berbagai konflik abad ke-20 itu akhirnya runtuh. Lapisan-lapisan sejarah yang tersimpan dalam batunya — termasuk sisa-sisa peninggalan era Tentara Salib — ikut hancur bersamanya. (IW)


ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler