Pasukan Zionist Israel kembali mentarget para jurnalis di Jalur Gaza. Fotografer Ahmed Weshah dilaporkan tewas akibat serangan Israel, hanya dua bulan setelah saudaranya, jurnalis Mohammed Samir Weshah, terbunuh dalam serangan serupa.
Menurut laporan dari sumber-sumber lokal Palestina, Ahmed Weshah gugur dalam rangkaian serangan yang menyasar mobil tim media di Kamp Buraij, Gaza Tengah pada sore Sabtu (20/6) waktu setempat.
Sebelumnya, pasukan Israel juga menargetkan jurnalis Mohammed Samir Weshah dan tim medianya. Mereka tewas setelah kendaraan yang mereka gunakan dihantam serangan Israel hingga terbakar.
Serangan tersebut terjadi setelah propaganda hasutan yang berlangsung berulang kali di media dan platform Israel secara terbuka menuduh serta menyerukan tindakan terhadap jurnalis Palestina.
Kesyahidan Ahmed Weshah menambah panjang daftar jurnalis yang gugur saat menjalankan tugas di tengah genosida dan krisis kemanusiaan yang melanda Gaza.
Organisasi hak asasi manusia dan lembaga kebebasan pers internasional berulang kali mengecam serangan terhadap jurnalis serta mendesak adanya investigasi independen terhadap dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional.
Berdasarkan data Kantor Media Pemerintah Gaza (Government Media Office) yang diperbarui pada Juni 2026, lebih dari 230 jurnalis dan pekerja media Palestina telah terbunuh sejak Israel melancarkan serangannya ke Jalur Gaza pada Oktober 2023. Angka tersebut menjadikan perang di Gaza sebagai salah satu genosida paling mematikan bagi jurnalis dalam sejarah modern.
Sementara itu, sejumlah organisasi internasional seperti Committee to Protect Journalists (CPJ) dan Reporters Without Borders (RSF) terus menyerukan perlindungan bagi jurnalis.
Mereka menegaskan pekerja media merupakan warga sipil yang dilindungi hukum internasional dan tidak boleh menjadi sasaran serangan militer.
Pembunuhan Ahmed Weshah kembali memicu kecaman luas dari kalangan jurnalis, aktivis hak asasi manusia, dan organisasi media yang menilai bahwa penargetan terhadap pekerja pers merupakan upaya membungkam dokumentasi dan penyebaran informasi mengenai kondisi di Gaza.

