Anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Republik, Thomas Massie mendesak pemerintah AS untuk membuka kembali penyelidikan atas serangan Israel terhadap kapal Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Liberty pada tahun 1967 yang menewaskan 34 personel militer dan melukai 171 lainnya.
Senin (8/6) menandai peringatan ke-59 serangan tersebut. Massie memperingatinya dengan menyampaikan pidato di lantai Dewan Perwakilan Rakyat AS (House of Representatives) di hadapan sejumlah penyintas tragedi tersebut.
Israel selama ini menyatakan insiden itu merupakan kecelakaan akibat salah sasaran (friendly fire). Namun, sejumlah awak USS Liberty membantah penjelasan tersebut dan meyakini serangan itu dilakukan secara sengaja.
Dalam pidatonya, Massie menyoroti kesaksian para penyintas yang mempertanyakan versi resmi peristiwa tersebut.
“Selagi mereka masih hidup, mereka berhak mendapatkan kepastian,” kata Massie mengenai para penyintas.
“Mari kita berikan kepastian itu. Mari lakukan penyelidikan. Mari sahkan resolusi untuk menghormati mereka. Hal itu sudah sangat terlambat dilakukan. Setelah itu mereka bisa mendapatkan keadilan.”
Pidato tersebut menjadi salah satu pengakuan langka di Kongres AS terhadap berbagai pertanyaan yang masih belum terjawab terkait serangan itu.
Pernyataan Massie juga muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap kebijakan Amerika Serikat yang selama ini memberikan dukungan tanpa syarat kepada Israel.
Setelah perang yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida di Gaza serta perang gabungan AS-Israel melawan Iran, berbagai survei opini menunjukkan bahwa dukungan publik Amerika terhadap Israel terus menurun.
Para pengkritik selama beberapa dekade berpendapat bahwa insiden USS Liberty dan dugaan upaya penutupan kasus setelahnya menunjukkan hubungan yang tidak seimbang antara Washington dan Tel Aviv serta tidak menguntungkan kepentingan AS.
Perang melawan Iran serta berbagai pelanggaran dan kekerasan di Gaza maupun Lebanon kembali memunculkan sorotan terhadap kemitraan tersebut, termasuk terhadap serangan USS Liberty pada 1967.
Massie dikenal sebagai salah satu anggota Kongres yang skeptis terhadap hubungan AS-Israel. Ia menentang perang terhadap Iran serta berbagai upaya untuk mempererat integrasi militer kedua negara.
Politisi yang masa jabatannya akan segera berakhir itu kalah dalam pemilihan pendahuluan bulan lalu dari kandidat yang didukung Presiden AS Donald Trump dan kelompok-kelompok pro-Israel.
Dalam pidatonya, Massie meragukan klaim bahwa Israel secara tidak sengaja menyerang USS Liberty.
“Jarak pandang saat itu tidak terbatas. Bendera Amerika Serikat berkibar dengan jelas di USS Liberty,” ujarnya, seraya menggambarkan kapal tersebut sebagai sasaran “serangan brutal”.
Serangan pada Masa Perang Enam Hari
Pendukung Israel tetap berpendapat bahwa insiden tersebut merupakan kesalahan identifikasi yang lazim terjadi dalam situasi perang.
Pada saat itu, Israel sedang terlibat dalam Perang Enam Hari melawan sejumlah negara Arab. USS Liberty ditempatkan di perairan internasional untuk melakukan pengamatan dan pengumpulan intelijen.
Namun pada 8 Juni 1967, jet tempur Israel menembaki kapal tersebut, menjatuhkan bom napalm, lalu meluncurkan torpedo ke arah USS Liberty.
“Israel berniat memastikan tidak ada satu pun yang selamat,” kata Massie dalam pidatonya, seraya mencatat bahwa pesawat Israel telah mengawasi kapal tersebut sehari sebelum serangan terjadi.
Untuk memperkuat argumennya, Massie mengutip pernyataan sejumlah pejabat tinggi diplomatik, intelijen, dan militer AS, termasuk mantan Menteri Luar Negeri Dean Rusk serta mantan Ketua Kepala Staf Gabungan Laksamana Thomas Hinman Moorer, yang meyakini serangan itu dilakukan secara sengaja.
“Tak satu pun dari tokoh-tokoh terhormat ini menganggapnya sebagai kecelakaan,” kata Massie.
“Mereka meyakini ini adalah pembunuhan yang disengaja oleh negara Israel, baik sebagai operasi false flag maupun karena mereka tidak ingin ada pihak yang mengamati apa yang sedang mereka lakukan pada hari itu.”
Pada akhir konflik tahun 1967, Israel menduduki dan menguasai secara ilegal Tepi Barat, Yerusalem Timur, Jalur Gaza, serta Dataran Tinggi Golan milik Suriah.
Kesaksian dan Perdebatan yang Berlanjut
Pada tahun 2003, Ward Boston, pejabat Angkatan Laut AS yang menjadi penasihat dalam pengadilan penyelidikan kasus tersebut, memberikan kesaksian di bawah sumpah bahwa penyelidik utama Isaac Kidd mendapat tekanan untuk menyimpulkan insiden itu sebagai kasus salah identifikasi.
Namun, laporan Badan Intelijen Pusat AS (CIA) yang dirilis pada 2006 menyatakan bahwa pilot Israel “gagal mengidentifikasi” USS Liberty sebagai kapal milik Amerika Serikat.
Sementara itu, anggota Kongres dari Partai Republik Dan Crenshaw mengkritik rencana Massie untuk kembali mengangkat kasus tersebut.
“Insiden USS Liberty memang tragis, tetapi merupakan peristiwa yang kesimpulannya sudah jelas jika dianalisis secara objektif berdasarkan fakta,” tulis Crenshaw di platform X.
Sebaliknya, USS Liberty Veterans Association, organisasi yang sebagian besar beranggotakan para penyintas, memuji pidato Massie dan kembali menyerukan pertanggungjawaban atas insiden tersebut.
“Penyampaian kisah kami yang luar biasa dalam waktu yang sangat singkat,” tulis organisasi itu di media sosial.
“Sebuah kisah yang bahkan tidak mau didengarkan oleh anggota Kongres lainnya.”

