HomeBeritaJurnalis Palestina Ungkap Penyiksaan, Kelaparan dan Pengabaian Medis di Penjara Israel

Jurnalis Palestina Ungkap Penyiksaan, Kelaparan dan Pengabaian Medis di Penjara Israel

Jurnalis Palestina Mujahid Bani Mufleh masih menjalani perawatan intensif enam bulan setelah dibebaskan dari penjara Israel. Ia mengatakan kehilangan hampir 20 kilogram berat badan akibat kelaparan dan pengabaian medis selama ditahan, sebelum akhirnya mengalami pendarahan otak parah beberapa hari setelah dibebaskan, lapor Anadolu Agency dilansir dari Middle East Monitor, Selasa (30/6).

Saat ini Bani Mufleh dirawat di Rumah Sakit Spesialis Ibnu Sina di Jenin, Tepi Barat utara yang diduduki. Setelah sempat mengalami koma, ia menjalani beberapa operasi, termasuk prosedur pengangkatan sebagian tulang tengkoraknya. Kini ia membutuhkan bantuan untuk bergerak, menelan, dan berbicara.

Jurnalis tersebut mengatakan bahwa kondisi di penjara, termasuk kelaparan dan minimnya layanan kesehatan, memperburuk kondisi kesehatannya secara drastis, terutama karena ia menderita diabetes.

Berbicara kepada Anadolu dari ranjang rumah sakitnya, ia mengenang bagaimana kesehatannya terus memburuk selama berada dalam tahanan.

“Saya masuk penjara dengan berat badan 72 kilogram, dan ketika keluar berat badan saya tinggal sekitar 50 kilogram,” ujarnya.

“Saya kehilangan sebagian besar berat badan karena kelaparan. Kami tidur dalam keadaan lapar, dan makanan yang diberikan tidak pernah cukup,” tambahnya.

Ia mengatakan kondisinya semakin memburuk karena tidak memperoleh pengobatan diabetes yang memadai.

“Sejak awal penahanan, saya tidak menerima obat yang semestinya, tidak pernah menjalani pemeriksaan medis, dan saya tidak mengetahui kadar gula darah saya. Makanan yang diberikan juga sangat sedikit,” katanya.

Diabetes merupakan penyakit kronis ketika tubuh tidak memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tidak mampu menggunakannya secara efektif, sehingga kadar gula darah meningkat dan dapat merusak organ-organ tubuh jika tidak ditangani.

Israel menangkap Bani Mufleh di kota Beita, selatan Nablus, pada Juni 2025 dan membebaskannya pada Januari 2026, menurut Perhimpunan Tahanan Palestina (Palestinian Prisoner’s Society).

Dibebaskan dalam kondisi kritis

Bani Mufleh mengatakan pembebasannya terjadi secara tiba-tiba setelah masa penahanannya sebelumnya diperpanjang. Ia mengaku diberitahu bahwa dirinya akan dipindahkan dan tidak diberi kesempatan untuk berpamitan dengan tahanan lain.

“Saya terkejut ketika dibebaskan. Saya bahkan tidak tahu bahwa saya akan keluar,” ujarnya.

“Mereka mengeluarkan saya tengah malam, dan empat jam kemudian saya sudah berada di udara terbuka, di tengah dinginnya Gurun Negev. Saya menggigil hebat,” tambahnya.

Ia mengatakan kondisi kesehatannya memburuk dengan cepat setelah bebas. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kadar gula darah dan tekanan darahnya sangat tinggi.

“Saat saya sedang diwawancarai oleh seorang rekan jurnalis mengenai apa yang saya alami di penjara, tampaknya mengingat kembali semua pengalaman itu terlalu berat bagi tubuh saya, sehingga saya kehilangan kesadaran,” katanya.

Ia kemudian dilarikan ke sebuah rumah sakit di Nablus. Dokter mendiagnosis dirinya mengalami pendarahan otak yang parah. Setelah itu ia jatuh koma dan menjalani serangkaian operasi.

Kehidupan setelah penahanan

Setelah sadar dari koma, Bani Mufleh mengatakan hidupnya berubah total dan kini ia tidak lagi mampu melakukan aktivitas sehari-hari.

“Dulu saya adalah orang yang penuh semangat hidup. Saya bekerja berjam-jam setiap hari. Kini saya hampir tidak mampu melakukan tugas-tugas paling sederhana,” katanya.

“Saya membutuhkan bantuan orang lain untuk bergerak dan berpindah tempat. Saya kehilangan kemampuan berbicara dan menelan, dan hingga kini masih menjalani proses pengobatan yang panjang,” tambahnya.

Ia mengatakan kondisinya juga memengaruhi hubungannya dengan ketiga anaknya.

“Saya dulu menghabiskan banyak waktu bersama mereka di rumah, mengajari mereka, dan memenuhi semua kebutuhan mereka. Sekarang saya tidak bisa lagi melakukan itu,” ujarnya.

“Saya merindukan tawa mereka, dan saya berharap bisa kembali menjadi ayah seperti dulu.”

“Foto yang menunjukkan kenyataan”

Bani Mufleh mengatakan unggahan fotonya di Facebook yang memperlihatkan kondisi pascaoperasi dimaksudkan untuk mendokumentasikan pengalaman yang dialaminya setelah ditahan.

Foto tersebut memperlihatkan sebagian tengkoraknya telah diangkat akibat operasi otak, disertai tanda-tanda penurunan berat badan yang sangat drastis.

“Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang kenyataan yang sebenarnya,” katanya.

“Banyak teman menolak foto itu dipublikasikan karena menurut mereka foto tersebut tidak indah. Namun saya tidak memiliki apa pun yang perlu ditakuti. Inilah saya sekarang, dan beginilah kondisi saya.”

Ia mengaku terus mengenang kehidupannya sebelum dipenjara, termasuk pekerjaannya sebagai jurnalis dan petani.

“Saya merindukan Mujahid yang dulu.”

Ia menambahkan bahwa sebelum ditangkap ia mengelola lahan pertanian dengan puluhan pohon.

“Istri dan anak-anak saya selalu berada di sisi saya, dan mereka berharap saya bisa kembali seperti sebelumnya.”

Ribuan kasus serupa

Perhimpunan Tahanan Palestina pekan lalu menyatakan bahwa penjara-penjara Israel telah berubah menjadi alat “pembunuhan secara perlahan dan langsung” terhadap para tahanan Palestina.

Menurut organisasi tersebut, kasus Bani Mufleh mencerminkan kondisi yang dihadapi ribuan warga Palestina di dalam tahanan, termasuk kelaparan, pengabaian medis, dan berbagai bentuk pelanggaran lainnya.

Kelompok itu menyebut lebih dari 245 jurnalis Palestina telah ditahan Israel sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023.

Mereka juga mengatakan pasukan Israel hampir setiap hari melakukan penggerebekan di seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki sejak Oktober 2023, yang berujung pada penangkapan massal dan penggeledahan.

Berdasarkan data Palestina, sejak 7 Oktober 2023 Israel telah menangkap sekitar 23.000 warga Palestina dari Tepi Barat, termasuk perempuan, anak-anak, dan mantan tahanan.

 

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler